Cerita Pencari KerjaNovember 14th, 2008 by
eno rusnadiTerik matahari terus menerpa lelaki itu. Seolah tak mau beranjak menyoroti panasnya. Keringat pun meleleh dari dahi lelaki yang diliputi persoalan ini. Tapi ia tetap melangkah mengikuti kemana kemauan arah kaki dipacu. Wajahnya tampak suram. Setelah tadi naas, serta kesialan secara beruntun menimpanya. Ia bahkan tak peduli lagi lalu lalang orang di sekitar sini. Trotoar yang dipijaknya itu seperti tak putus. Panjang dan sesekali melingkar menuruti kehendak kontur tanah.
Ia biarkan serpihan debu yang dibawa angin menempel di pakaian yang dikenakannya. Seketika tampak pula asap knalpot yang dimuntahkan dari kendaraan bermotor yang melintas di dekatnya itu. Asap pun bergulung-gulung dan memecah di sekelilingnya Ia hanya sesaat menutupi wajahnya itu guna melindungi serangan yang datang mendadak. Sama persis apa yang dilakukan oleh orang-orang lain yang melintas di trotoar ini.
Siang ini panas tak terperi. “Barangkali sudah 38 derajat celcius,” pikirnya. Padahal sebelumnya ia masih berada di ruang yang sejuk. Ruang di mana dirinya itu punya harapan, sekaligus pula angan untuk bisa setara dengan mereka yang berada di gedung ini. Apalagi kalau bukan untuk mengalahkan kesulitan hidup di Jakarta. Semata-mata, ya semata-mata hanya untuk bisa menjadi salah satu pekerja di kantor tersebut. Namun sayang, untuk kesekian kalinya pula lamaran kerjanya ditolak.
“CV Anda amat baik, tapi maaf kantor kami belum membutuhkannya. Barangkali untuk perusahaan lain lebih cocok. Semoga berhasil,” kata pimpinan kantor yang ruangnya sejuk itu. Ia pun tak mau lagi berlama-lama di ruang itu. Lantas segera keluar dan menjemput terik matahari.
Di luar, cahaya matahari itu menyilaukan mata. Apalagi tatkala kepalanya didongakkan ke atas. Sorot cahayanya memantul dari dinding kaca gedung-gedung di sekitar ia berdiri. Pantulan cahaya itu menyebabkannya berpaling untuk melangkah pergi. Saking cepatnya ia bergegas, tubuhnya secara tak sengaja menyenggol pejalan kaki lain di trotoar ini.
“Liat-liat dong kalo jalan, kayak gak punya mata aja,”sungut perempuan muda seusia dirinya itu.
Ia tersentak, kaget. Dirasakan oleh hidungnya, perempuan ini sedikit menebar aroma wangi dari tubuhnya. Dan, matanya itu sekilas menangkap pula apa yang tampak di hadapannya ini. Perempuan itu menyilangkan tali tasnya yang kecil di tubuhnya. Sekaligus kelihatan menjepit map plastik di ketiaknya. Ia pun menoleh sesaat.
“Maaf, Mbak!” balasnya spontan sembari menundukkan kepala memohon. Dan, perempuan itu malah terus nyerocos memaki-maki. Tapi tak dipedulikannya. Sebab ia sudah menghaturkan maaf.
“Mungkin menjelang mens dia marah-marah begitu,” katanya pelan dan asal-asalan, sembari melangkah meninggalkan perempuan yang dianggapnya ketus itu.
Untuk perempuan itu, kata maaf cukuplah diberikan atas keteledorannya. Ia tak mau berlama-lama. Maaf seperti sesuatu yang mudah untuk diberikan kepada siapa saja. Baginya hal itu penting untuk mengingatkan kembali di setiap langkah kakinya. Ia masih teringat atas apa yang diajarkan orang tuanya untuk meminta dan memberi maaf pada siapapun. Entah itu disengaja ataupun tidak. Tapi siang ini hari yang sungguh sial. Baru saja meminta maaf kepada perempuan itu, ulah selanjutnya justru tinju yang mengarah kebagian wajahnya. Ia tak hanya kaget tapi juga tersentak. Pukulan itu tak sempat ia elakkan.
Persoalannya sepele. Dan masih di trotoar ini. Ketika ia baru saja beberapa langkah pergi dari kejadian tadi, matanya bersitatap dengan lelaki pejalan kaki dihadapannya. Sekejap kemudian sang lelaki ini mengira seperti ditantang oleh tatapan itu.
“Dari tadi lu liatin gue terus, nantangin lu!”. Selanjutnya tanpa ba bi bu lagi, satu kali pukulan dari orang itu mendarat di pelipisnya. Pukulan itu membuatnya mundur sesaat. Ia hanya ingin tahu apa yang terjadi. Apakah ia berbuat salah pada lelaki ini? Sebelum ia bertanya dan berupaya membalas tindakan orang itu, orang-orang lain yang ada di sekitarnya bergegas menghampiri. Bahkan Satpam yang bertugas di pos penjagaan gedung dekat trotoar ini pun menyempatkan diri berhamburan untuk menenangkan suasana.
Apa mau dikata, sejurus kemudian suasana cair kembali. Padahal ia belum sempat menanyakan apa kesalahannya. Hanya saja kerumunan orang itu punya bahasa kalbu yang sama dengan dirinya. Bahasa maaf.
“Ini semua cuma salah paham,” kata mereka. Ia pun turut dengan kata hati dan penjelasan orang-orang ini termasuk Satpam yang bertugas di gedung yang ada di dekatnya. Lelaki yang menghadiahinya bogem mentah pun seketika pergi tanpa peduli dengan yang barusan dilakukannya. Ia ngeloyor juga. Akhirnya semua bubar.
————-
Tak habis ia memikirkan atas apa yang barusan dialaminya itu. Senggolan tanpa sengaja bisa membuat orang marah. Marah masih bisa dimengerti, tapi memaki-maki seperti perempuan yang tadi, tentu amit-amit. Eh tak dinyana, malah ada yang lebih parah lagi dari sekedar memaki-maki. Ini pukulan. Pukulan dari orang yang tak jelas juntrungannya. Soalnya apalagi kalau bukan bersitatap. Hanya tatapan mata sekilas saja orang sudah naik pitam. Apa yang sebenarnya sedang menimpa kota ini.
“Orang sudah tidak berfikir jernih rupanya!”
Padahal kalau mau diperhatikan, mereka itu tampak baik dari sudut wajah dan tampilannya. Apakah mereka itu tak tahu bahwa perbuatannya sungguh di luar batas. Sungguh, bagaimana mungkin perbuatan sepele seperti tadi bisa berubah menjadi besar. Mungkinkah mereka hidup seperti dirinya yang masih berjudi dengan nasib? Boleh jadi iya. Mereka masih diliputi ketidakpastian masa depan. Tengok saja, apa yang sempat terlihat dari perempuan itu. Perempuan itu tampak kesal di wajahnya.
“Barangkali saja dia sama persis keadaannya denganku yang tengah mencari kerja,” bisiknya dalam hati. Ini bisa saja sesuatu yang pasti. Selintas apa yang dijepit di ketiaknya itu bukan mustahil berkas surat lamaran kerja.
“Hahahaha,” tawanya tiba-tiba dan merasa geli mengira-ngira kemungkinan itu.
Tapi bagaimana yang lelaki tadi. Apakah dia seorang preman? Apakah dia seorang buronan? Ah kelihatannya tak mungkin. Wajah dan penampilannya tak ada tanda-tanda ke arah itu. O mungkin saja dia sedang marah kepada bos-nya di mana ia bekerja. Ya, ya bisa jadi dia sedang marah. Bisa saja lelaki ini barusan dimarahi karena hasil kerjanya tidak memuaskan. Lantas dia marah pula kepada orang lain yang dianggapnya salah. Atau bisa saja dia terkena PHK. Ya, PHK, pemutusan hubungan kerja. Ini pasti.
“Hihihi,”tawanya kembali menghibur diri.
Di antara senyum dan tawanya itu tak luput pula pikirannya melayang-layang ke masa lalu. Ia mengenang tiap pesan ataupun perbincangan dengan orang-orang terdekatnya di desa. Apalagi kalau bukan untuk bersikap hati-hati di kota yang akan ditujunya. Tapi soal yang tadi dialaminya itu tidak termasuk dalam pesan yang pernah diingatnya. Apa mungkin mereka semua di desa tak tahu hal yang remeh tapi berbuntut panjang ini. Atau, kehidupan di desa yang rada tentram dan aman membuat mereka tak berfikir atau mengalami hal itu. Malahan menurutnya, soal senggolan dan bersitatap di antara mereka di desa itu merupakan hal yang justru bisa mengeratkan hubungan sosialnya. Bisa saja dari tindakan yang tidak disengaja itu berlanjut ke pelaminan atau menjadi rekan dalam hubungan usaha. Mungkin saja.
Pikirannya pun masih terus melayang diikuti langkah kakinya. Ia menerawang tentang kota di tanah air yang sempat ia ketahui dari cerita atau bahan bacaan. Termasuk Jakarta ini. Sebuah kota yang hingga kini terus menjadi incaran kaum pendatang. Tak terhitung sudah berapa ratus bahkan juta orang yang menetap di sini. Tak terhitung juga sudah berapa orang yang beruntung, bahkan tak pelak menjadi sengsara. Tapi anehnya orang-orang dari daerah terus berdatangan. Malah dari kabar yang diperoleh,penduduk Jakarta ketika siang itu bisa sampai 12 juta jiwa. Termasuk dirinya tentu saja.
Jumlah yang bukan main banyaknya. Jiwa yang sebanyak itu mengais-ngais rezeki di semua lapangan kerja. Entah itu yang sifatnya kantoran atau asongan. Entah itu yang sifatnya kejahatan atau pembasmian kejahatan. Entah itu yang sifatnya esek-esek atau broker esek-esek. Malah ada pula yang mengais rezeki hanya untuk memperkaya diri saja. Ya korupsi itu. Tapi khusus untuk yang ini ada ketanggapan dan kesigapan dari orang lain juga, yaitu orang yang mengais rezeki untuk membasmi korupsi. Jadi kelihatan sekali semua orang yang hidup di sini ada keseimbangan.
Keseimbangan tampaknya sudah kodrat sebuah kota besar. Hanya saja keseimbangan itu belum berpihak pada nasib pencari kerja. Padahal kesempatan selalu terbuka dari iklan lowongan kerja di berbagai media cetak maupun elektronik. Dari sini bisa dikatakan antara pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan akan sumber daya manusia yang baru itu masih jauh panggang dari api. Contohnya, dibutuhkan satu orang untuk posisi kerja di suatu perusahaan, tapi yang melamar bisa ratusan. Begitu juga sebaliknya, perusahaan membutuhkan banyak sumber daya manusia tapi yang sesuai dengan kebutuhan itu malah tak ada. Isi kepalanya tak lelah berputar-putar mendiskusikan hal itu.
“Lalu, sampai kapan aku menghadapi situasi seperti ini?”
Ia bertanya dalam hati, sesekali punggung telapak tangannya di arahkan ke dahi untuk menghapus keringat yang meleleh. Seakan tak ada habisnya jarak yang ditempuh siang itu. Malah pesan dari ibunya sempat terbersit pula. Ia merasakan dan sudah tiga bulan masa yang dihabiskan di kota ini. Tak terhitung pula ongkos yang dikirimkan orang tuanya untuk bekal hidup sementara itu dikeluarkannya. Tapi ucapan batin dari kedua orang tuanya itu meresap dalam-dalam.
“Tanamkan selalu kuat-kuat tekad mu, Al,” ucap ibunya ketika itu.
Ia memang bertekad untuk terus mencari kerja. Tak soal orang menyarankan untuk wirausaha. Yang jelas baginya sudah terendap, kerja kantoran mesti didapatkan. Lama kelamaan hal itu dirasakannya pula. Bahwa mencari kerja punya seni tersendiri. Mana tahu hal ini bisa menjadi bahan referensi kerja. Itulah mengapa ia masih bersikap optimis untuk meraih apa yang menjadi harapannya. Meski harapan itu sesaat telah terhempas kembali dari titian jalan masa depan .
—————-
Ah masa depan rupanya belum berpihak. Puluhan surat lamaran kerja sudah ia layangkan. Sekedar wawancara pun ia tunaikan. Tapi hasilnya tetap saja nol. Aldi ibarat bergumul di atas jerami yang bertumpuk-tumpuk dan menindih tubuhnya. Bahkan untuk sekedar menggeliat apalagi berontak terhadap realitas yang dihadapinya ini sungguh teramat sulit. Tak ada kepasrahan sesungguhnya dari dia. Hanya saja nasib belum sepenuhnya bertengger di puncak menara harapan yang tengah dinanti itu.
Untungnya lagi sebagai lelaki ia sadar. Kesadaran ini masih hinggap dalam batas-batas kewajaran. Tak seperti orang yang hilang kesadaran, lalu bisa bertindak nekad. Seperti yang dilakukan oleh perempuan dan lelaki yang tak dikenalnya tadi. Tapi ia tetap fokus atas apa yang menjadi tekadnya untuk kerja kantoran di kota ini. Seperti halnya sorot cahaya matahari yang tetap fokus mengawasi ayunan ringan langkah kakinya itu.
sumber.
www.kolomkita.com